𝐆𝐫𝐞𝐬𝐢𝐤, 𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚𝐫𝐞𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚𝐧𝐞𝐰𝐬 𝐜𝐨𝐦|22 April 2026 — Memperingati Hari Bumi 2026, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam program magang di ECOTON menggelar aksi kolaboratif di kawasan Wringinanom, Gresik. Aksi ini melibatkan mahasiswa Program Studi Biologi FMIPA Universitas Negeri Surabaya dan Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Universitas Brawijaya.
Mengusung semangat bahwa kepedulian lingkungan tidak cukup berhenti pada kampanye digital, para peserta aksi menekankan pentingnya langkah nyata dalam menghadapi krisis iklim dan pencemaran yang semakin masif, khususnya di wilayah Jawa Timur.
*Menelusuri Luka Lingkungan dari Hulu ke Hilir*
Aksi dimulai sejak pagi hari dengan kegiatan menyusuri permukiman warga hingga bantaran Kali Surabaya. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa melakukan penanaman pohon sebagai upaya menjaga kawasan bantaran dari alih fungsi lahan, sekaligus memungut sampah yang tersebar di sepanjang jalur yang dilalui.
Namun, temuan di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Di salah satu titik tepi sungai, peserta menemukan tumpukan sampah dalam jumlah besar dengan bau menyengat. Sampah organik, non-organik, hingga limbah B3 bercampur tanpa pengelolaan yang memadai, bahkan berada di dekat area pasar.
Kondisi ini dinilai bukan hanya persoalan estetika, tetapi ancaman serius bagi ekosistem sungai dan kesehatan masyarakat. Dalam orasi terbuka, mahasiswa menuntut penyediaan fasilitas pemilahan sampah, edukasi menyeluruh kepada masyarakat, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran lingkungan.
*Aksi Nyata: Bersih-Bersih dan Edukasi Publik*
Memasuki siang hari, aksi berlanjut ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) setempat. Di lokasi ini, mahasiswa melakukan aksi bersih-bersih sebagai bentuk komitmen bahwa perubahan harus dimulai dari tindakan nyata. Slogan “Sampah kelola dari rumah” digaungkan sebagai ajakan kepada masyarakat untuk bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan.
Pada sore hari, aksi ditutup di perempatan lampu merah Wringinanom. Mahasiswa membentangkan poster bertuliskan “Ayo Pilah Sampah”, “Dari Rumah Sampah Kelola”, dan “Hentikan Plastik Sekali Pakai” sebagai pesan langsung kepada pengguna jalan.
Dalam orasi tersebut, peserta juga mengangkat isu tanggung jawab pemerintah daerah, khususnya Gubernur Jawa Timur, untuk mematuhi sejumlah putusan hukum terkait penanganan pencemaran sungai dan fenomena ikan mati di berbagai aliran sungai.
Sungai Jawa Timur di Bawah Ancaman
Sungai-sungai besar di Jawa Timur seperti Kali Brantas, Kali Surabaya, Kali Mas, hingga Bengawan Solo merupakan sumber vital bagi kehidupan masyarakat. Selain menjadi penopang kebutuhan air sehari-hari, sungai juga menjadi bahan baku air minum.
Namun, kualitas air terus mengalami penurunan akibat pencemaran limbah domestik, plastik, sedimentasi, serta aktivitas industri. Jika tidak ditangani secara serius, kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pengolahan air bersih, mengganggu pasokan air layak konsumsi, serta memicu berbagai gangguan kesehatan masyarakat.
*Desakan Penegakan Hukum*
Dalam momentum ini, massa aksi juga menuntut kepatuhan terhadap sejumlah putusan hukum terkait lingkungan, di antaranya:
Putusan Nomor 08/Pdt.G/2019/PN Sby Jo Nomor 177/PDT/2023/PT.Sby
Putusan Nomor 1190/K/PDT/2024
Putusan Peninjauan Kembali Nomor 821 PK/Pdt/2025 (21 Agustus 2025)
Aksi simbolik “Besuk Sungai” dilakukan sebagai bentuk peringatan kepada pemerintah daerah agar turun langsung melihat kondisi riil di lapangan serta mengambil langkah konkret dalam perlindungan ekosistem sungai.
*Ajakan Kolaborasi untuk Masa Depan*
Aksi ini menegaskan bahwa perlindungan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah didorong memperkuat pengawasan kualitas air dan penegakan hukum, sementara sektor industri diminta memastikan pengelolaan limbah sesuai ketentuan.
Masyarakat juga diajak berkontribusi melalui langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat sumber daya, menjaga vegetasi, serta berani melaporkan praktik pencemaran.
Sebagai penutup, perwakilan peserta aksi menegaskan bahwa menjaga sungai hari ini adalah investasi bagi masa depan generasi mendatang. Sungai bukan sekadar aliran air, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga bersama agar tetap bersih, lestari, dan berkelanjutan.
Kaperwil Jawa Timur
