ππ₯ππ‘: KRT. Ardhi Solehudin, SH., M.Kom.
(Aktivis Pers / Pemimpin Umum Media Realita News)
πππππππππππ, π¦πππ’ππ«πππ₯π’πππ§ππ°π¬.ππ¨π¦ – Di tengah arus modernisasi dan keterbukaan informasi, peran pejabat publik dan Aparatur Sipil Negara (ASN) seharusnya menjadi mercusuar moralitas bagi masyarakat. Mereka adalah figur yang digaji oleh rakyat untuk melayani, bukan untuk dilayani—apalagi untuk bersikap jemawa. Namun, realita di lapangan seringkali menyuguhkan pemandangan yang kontras dan memprihatinkan.
Sebagai praktisi pers, saya melihat adanya pergeseran nilai yang sangat serius. Keteladanan yang dahulu menjadi fondasi kepemimpinan, kini kian luntur, berganti dengan pragmatisme dan arogansi kekuasaan.
π²ππππππ: π³πππ π΄πππππππ π²ππππππππππ π·πππππ
Kabar mengenai oknum pejabat yang terjaring operasi senyap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seolah menjadi "menu rutin" yang menyesakkan dada. Setiap rupiah yang dikorupsi adalah hak rakyat yang dirampas secara paksa. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan pengkhianatan terhadap sumpah jabatan di bawah kitab suci.
Bagaimana mungkin seorang panutan sanggup mencederai kepercayaan publik demi syahwat memperkaya diri? Fenomena ini menunjukkan bahwa integritas kini menjadi barang mewah yang kian sulit ditemukan di lorong-lorong birokrasi kita.
π¨πππππππ π ππ π΄ππππππ π¬ππππ π²πππππππππ
Seringkali, "penyakit" pejabat kita bukan hanya soal uang, tapi juga soal sikap. Banyak oknum pejabat yang masih memelihara watak feodal—sulit ditemui, enggan melayani, hingga mengidap penyakit arogansi komunikasi.
Sebagai contoh kecil namun fatal: mengabaikan salam. Secara etika dan moral—terutama di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai agama—menjawab salam adalah kewajiban sosial dan spiritual. Namun, di era digital ini, sering kita temui oknum pejabat yang bahkan enggan membalas salam melalui pesan singkat seperti WhatsApp.
"πΎπ πππππππ πππππ" mungkin hanya satu kalimat, namun di dalamnya terkandung doa dan penghormatan. Jika hal sekecil itu saja diabaikan, bagaimana masyarakat bisa berharap mereka akan merespons jeritan persoalan rakyat yang lebih besar?
πΊπππππππ πππππ "π·πππ π·ππππππ"
Krisis keteladanan ini tidak boleh dibiarkan menjadi kewajaran. ASN dan Pejabat Publik harus sadar bahwa mereka adalah pelayan, bukan penguasa. Seragam yang mereka kenakan bukan tameng untuk bersikap sombong, melainkan beban tanggung jawab untuk memberi manfaat.
Jika moralitas telah hilang dan etika dianggap remeh, maka yang tersisa hanyalah birokrasi hampa tanpa jiwa. Kita tidak butuh pejabat yang hanya cerdas secara intelektual, tapi kita butuh mereka yang beradab dan memiliki kepekaan nurani.
Sudah saatnya kita kembali pada khitah: bahwa pemimpin adalah mereka yang paling depan dalam memberi contoh, bukan yang paling depan dalam melanggar aturan dan kode etik. Jangan sampai rakyat kehilangan sisa-sisa hormatnya hanya karena perilaku oknum yang merasa dirinya tak tersentuh.
Pena saya tidak akan berhenti menulis, selama keteladanan masih menjadi barang langka di negeri ini.(***)
