Oleh: Mulyadi Tanjung (Buyung)
𝑲𝑨𝑹𝑨𝑵𝑮𝑷𝑼𝑪𝑼𝑵𝑮, 𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂𝒓𝒆𝒂𝒍𝒊𝒕𝒂𝒏𝒆𝒘𝒔 𝒄𝒐𝒎 – Desa kita bukan sekadar titik koordinat di Google Maps. Terletak strategis di jantung ibu kota kecamatan, Karangpucung adalah wajah, pusat gravitasi ekonomi, dan barometer kemajuan. Namun, saat fajar pesta demokrasi 2026 mulai menyingsing, sebuah pertanyaan besar mengetuk pintu hati kita:
Apakah kita akan melesat sebagai desa mandiri, atau justru jalan di tempat karena salah menitipkan mandat?
Sejarah adalah guru yang tak pernah berbohong.
Sudah saatnya warga Karangpucung "Naik Kelas" dalam berpolitik. Kita harus berani memutus rantai lama yang menganggap suara rakyat bisa "dijual-beli" dengan iming-iming sesaat. Jangan biarkan masa depan kita ditukar dengan janji manis yang menguap tepat setelah pelantikan.
*1. Integritas: Harga Diri di Atas Isi Amplop*
Pilkades bukan tentang siapa yang paling "dermawan" menebar uang (money politics), melainkan siapa yang paling mampu menjaga amanah. Mari kita jujur: Politik uang adalah investasi buruk. Pemimpin yang "membeli" suara hanya akan sibuk menghitung cara "balik modal," bukan menghitung cara menyejahterakan rakyatnya.
Ingat: Saat suara kita terbeli, saat itu juga hak kita untuk menuntut perubahan ikut mati.
*2. Mencari "CEO" Desa: Manajer Kreatif & Kekinian*
Mengelola Karangpucung di era 2026 tidak cukup hanya modal "orang baik" atau "orang lama." Kita butuh pemimpin dengan Mentalitas Manajer yang punya cara kerja segar dan out of the box:
Arsitek PADes (Bukan Tukang Tunggu Anggaran): Kita butuh "CEO" yang melek manajemen. Bukan yang pasif menunggu kucuran dana pusat, tapi yang kreatif menyulap aset desa menjadi mesin uang (Pendapatan Asli Desa). Dia harus tahu cara mengemas potensi pasar, wisata, atau UMKM kita agar punya nilai jual tinggi.
Adaptif & Tech-Savvy (Melek Digital): Pemimpin kekinian adalah yang paham bahwa teknologi bisa memotong birokrasi yang ribet. Pelayanan desa harus secepat pesan ojek online—transparan, akuntabel, dan nggak pakai "titip-titipan".
*Visi yang "Authentic":* Hentikan tren visi-misi hasil copy-paste. Kita butuh rencana yang lahir dari keringat dan pemahaman mendalam atas masalah di gang-gang desa kita, lalu dieksekusi dengan standar profesional.
*3. Karakter Berketuhanan: Rem Paling Pakem*
Di atas semua skill manajerial, pemimpin harus sadar bahwa kekuasaan adalah titipan Tuhan. Karakter ini adalah "rem" agar ia tidak silau harta dan jabatan. Kejujuran bukan sekadar slogan di baliho, melainkan napas dalam setiap kebijakan yang diambil.
*4. Berdaulat dengan Akal Sehat*
Pembangunan yang berkelanjutan harus bersumber dari kemandirian, bukan ketergantungan. Ini hanya bisa diwujudkan jika kemudi desa dipegang oleh tangan yang kompeten, kreatif, dan bersih.
Di akhir 2026 nanti, mari kita melangkah ke TPS dengan kepala tegak dan pikiran jernih. Jangan gadaikan masa depan anak cucu kita demi kepentingan sesaat. Karangpucung butuh pemimpin yang ber-SDM tinggi, manajerialnya teruji, amanah, dan takut kepada Tuhan.
Saatnya Karangpucung Berdaulat. Saatnya Memilih dengan Akal Sehat!
(***)
