𝑪𝑰𝑳𝑨𝑪𝑨𝑷,𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂𝒓𝒆𝒂𝒍𝒊𝒕𝒂𝒏𝒆𝒘𝒔 𝒄𝒐𝒎 – Aksi unjuk rasa yang digelar oleh sejumlah elemen mahasiswa yang tergabung dalam aliansi lintas kampus di depan Kantor Bupati Cilacap pada Selasa siang (23/6/2026) sempat diwarnai ketegangan.
Kejadian bermula saat beberapa mahasiswa putri terlibat adu mulut secara langsung dengan Kapolres Cilacap demi menyuarakan tuntutan mereka. Selain ketegangan adu argumen, jalannya aksi unjuk rasa ini juga sempat diwarnai dengan aksi saling dorong barikade serta pembakaran ban bekas oleh massa aksi di tengah jalan.
Ketegangan tersebut dipicu oleh desakan dari perwakilan mahasiswa putri yang menuntut agar seluruh rekan-rekan massa aksi yang hadir di lapangan diizinkan masuk ke dalam gedung secara bersama-sama untuk melakukan audiensi langsung dengan pihak Pemerintah Kabupaten Cilacap.
Di depan gerbang utama, aparat kepolisian bersama TNI sempat bersiaga ketat membentuk barikade berlapis guna mencegah massa merangsek masuk ke dalam kompleks perkantoran.
Aksi demonstrasi yang melibatkan massa sekitar 100 orang ini didasari oleh surat pemberitahuan resmi nomor *022/BEM.UNUGHA/VI/2026* yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali Cilacap, di bawah kepemimpinan Presiden Mahasiswa, Siti Maryam. Dalam pernyataan resminya, aliansi berkomitmen untuk mengawal jalannya roda pemerintahan demi kepentingan rakyat sebagai wujud tanggung jawab moral dan hak konstitusional warga negara.
Dalam aksi ini, para mahasiswa membawa empat poin tuntutan utama, antara lain:
1. Mendesak Plt. Bupati agar segera mengembalikan seluruh kebijakan pada koridor RPJMD 2025–2030.
2. Menuntut dilakukannya audit kebijakan secara menyeluruh terhadap keputusan pasca-Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
3. Meminta DPRD Kabupaten Cilacap menjalankan fungsi pengawasan secara tegas, kritis, dan independen.
4. Menuntut reorientasi kebijakan menuju penguatan ekonomi rakyat, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Meskipun situasi sempat memanas dan diwarnai aksi bakar ban, kedua belah pihak akhirnya berhasil mencapai titik temu untuk meredam ketegangan. Alih-alih melakukan pertemuan terbatas di dalam ruangan, pihak pemerintah daerah dan aparat keamanan sepakat untuk menemui seluruh massa aksi langsung di lapangan terbuka.
Berdasarkan kesepakatan antara perwakilan mahasiswa, pihak ASN, TNI, dan Kepolisian, jalan tengah diambil dengan menggelar audiensi secara terbuka di area halaman. Para mahasiswa beserta pejabat pemerintah yang mengenakan seragam dinas cokelat (ASN) menurunkan ego mereka dengan duduk bersila bersama di atas paving blok.
Dalam suasana duduk melingkar dan setara tersebut, perwakilan mahasiswa dapat dengan leluasa membacakan poin-poin tuntutan mereka menggunakan pengeras suara di hadapan para pejabat dan aparat yang mendengarkan secara seksama. Langkah dialog terbuka ini dinilai sangat efektif dalam mendinginkan suasana, sehingga penyampaian aspirasi dapat berjalan dengan aman, tertib, dan transparan tanpa ada sekat jarak yang membatasi.fitri

