𝐏𝐮𝐫𝐰𝐨𝐤𝐞𝐫𝐭𝐨, 𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚𝐫𝐞𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚𝐧𝐞𝐰𝐬.𝐜𝐨𝐦 - 9 Mei 2026 – Prestasi gemilang atlet tinju dari sasana Kelir Jati Boxing di ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) ternoda oleh insiden memilukan dan dugaan pembiaran dari pihak panitia penyelenggara.
𝐁𝐚𝐫𝐚𝐩𝐚𝐭𝐢, salah satu atlet muda berbakat putra dari Bapak Udin, harus menjalani operasi besar di RS Orthopedi akibat cedera patah tulang saat laga final. Di tengah perjuangan medis tersebut, pihak keluarga justru dibebankan biaya rumah sakit mandiri sebesar kurang lebih Rp18.000.000 karena klaim BPJS Ketenagakerjaan tidak dapat diproses akibat ketidaksiapan administrasi panitia.
𝐏𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐬𝐚𝐥 𝟏𝟎𝟎 𝐔𝐔 𝐍𝐨. 𝟏𝟏 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟐𝟎𝟐𝟐
Manager Kelir Jati Boxing, KRT Ardhi Solehudin, SH, M.Kom, yang juga anggota PPWI Jawa Tengah, mengutuk keras ketidakprofesionalan ini. Ia menegaskan bahwa panitia diduga kuat melanggar Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan.
"Berdasarkan Pasal 100 UU Keolahragaan terbaru, penyelenggara kejuaraan olahraga wajib menyediakan jaminan kesehatan, perlindungan keselamatan, dan keamanan. Jika klaim asuransi macet karena kelalaian teknis panitia, maka ini adalah bentuk pelanggaran nyata terhadap hak konstitusional atlet," tegas KRT Ardhi Solehudin.
Beliau menambahkan bahwa pihak sasana sudah tertib mengikuti aturan panitia, namun justru panitia yang gagal menjalankan fungsinya dalam menjamin perlindungan sosial bagi atlet.
𝐓𝐮𝐧𝐭𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐇𝐮𝐤𝐮𝐦 𝐝𝐚𝐧 𝐓𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐠 𝐉𝐚𝐰𝐚𝐛
KRT Ardhi Solehudin, SH, M.Kom menekankan beberapa poin krusial secara hukum:
𝐓𝐚𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐠 𝐉𝐚𝐰𝐚𝐛 𝐌𝐮𝐭𝐥𝐚𝐤 𝐏𝐞𝐧𝐲𝐞𝐥𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐫𝐚: Sesuai aturan terbaru, atlet berhak atas jaminan sosial. Ketidakmampuan klaim BPJS akibat kelalaian panitia adalah bentuk Wanprestasi yang merugikan secara materiil dan imateriil.
𝐃𝐮𝐠𝐚𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐥𝐚𝐝𝐦𝐢𝐧𝐢𝐬𝐭𝐫𝐚𝐬𝐢: Panitia harus menjelaskan mengapa koordinasi dengan pihak BPJS Ketenagakerjaan gagal dilakukan, padahal atlet sudah terdaftar.
𝐃𝐞𝐬𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐆𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐑𝐮𝐠𝐢: Kelir Jati Boxing mendesak Panitia POPDA untuk segera mengganti seluruh biaya pengobatan (reimbursement) dan tidak melempar beban kepada orang tua atlet.
𝐏𝐞𝐫𝐧𝐲𝐚𝐭𝐚𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐧𝐮𝐭𝐮𝐩
"Kami telah menyumbangkan prestasi dengan 4 emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Sangat ironis ketika keringat dan darah atlet kami hargai dengan prestasi, namun panitia justru abai pada keselamatan mereka. Kami tidak akan tinggal diam jika hak kesehatan atlet kami diabaikan seperti ini!" ujar KRT Ardhi Solehudin dengan nada tajam.(*)
𝐑𝐞𝐝

