Komersialisasi Perpisahan, Ketika Sekolah Menjual Gengsi di Atas Air Mata Wali Murid

 

Oleh: Mulyadi tanjung

𝐂𝐢𝐥𝐚𝐜𝐚𝐩, 𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚𝐫𝐞𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚𝐧𝐞𝐰𝐬 𝐜𝐨𝐦 - Dunia pendidikan kita sedang dijangkiti tren yang melenceng jauh dari khitah edukasi. Saban tahun, ritual kelulusan bukan lagi dirayakan dengan sujud syukur atau refleksi ilmu, melainkan berubah menjadi ajang pamer kemewahan.


 Pesta perpisahan di hotel dan kafe prestisius seolah menjadi standar baru yang wajib dipenuhi, meski harus dibayar dengan keringat dingin para orang tua yang ekonominya kembang kempis.


​Dalih "Kehendak Siswa" atau Jebakan Komite?

Narasi yang selalu dilempar ke publik adalah "ini keinginan siswa". Namun, benarkah demikian? Publik patut curiga bahwa ini hanyalah kedok untuk menutupi desain besar yang dirancang oleh oknum panitia dan Komite Sekolah.


 Patut diduga ada aroma kongkalingkong antara pihak sekolah, komite, dengan Event Organizer (EO) atau vendor tertentu.


​Siswa seringkali hanya dijadikan instrumen legitimasi. Panitia, dengan piawai, menyodorkan pilihan-pilihan yang sudah diarahkan ke pihak ketiga (EO). Di balik kesepakatan ini, muncul tanda tanya besar: Apakah ada kickback atau keuntungan pribadi yang mengalir ke kantong oknum tertentu dari setiap kepala siswa yang membayar iuran fantastis tersebut?


​Sekolah: Lembaga Pendidikan atau Agen Penyalur Proyek?

Seharusnya, sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki fungsi filter dan edukasi. 


Guru dan kepala sekolah wajib memberikan pengertian bahwa esensi perpisahan adalah perayaan nilai, bukan pamer materi. Namun, ketika sekolah justru memberi lampu hijau atau bahkan memfasilitasi pungutan mewah ini, mereka secara tidak langsung sedang mempromosikan gaya hidup hedonisme dan diskriminasi sosial.


​Bagi wali murid yang mampu, iuran ratusan ribu hingga jutaan rupiah mungkin hanya sekadar angka.


 Namun bagi mereka yang bekerja serabutan, uang sebesar itu adalah taruhan antara menyekolahkan anak ke jenjang berikutnya atau sekadar memuaskan nafsu seremonial sekolah.


 Sangat ironis ketika sebuah lembaga pendidikan menutup mata terhadap tangisan wali murid yang harus berutang demi anaknya tidak merasa terkucilkan di pesta tersebut.


​Mendobrak Tembok Eksklusivitas

Sekolah bukan milik mereka yang berkantong tebal saja. 


Perpisahan di dalam lingkungan sekolah jauh lebih bermartabat dan memiliki ikatan emosional yang kuat. Di sanalah tempat mereka berproses, dan di sanalah seharusnya mereka berpamitan secara sederhana.


​Sudah saatnya Dinas Pendidikan dan instansi terkait tidak hanya mengeluarkan imbauan mandul, tetapi tindakan tegas. Segala bentuk "bisnis perpisahan" yang memberatkan harus dihentikan.


 Pendidikan harus dikembalikan sebagai alat pembebasan, bukan alat pemerasan berkedok kenang-kenangan.


​Jangan sampai ijazah yang belum kering tintanya sudah dinodai dengan beban utang orang tua hanya demi pesta semalam di hotel mewah.

(Red)