𝐁𝐀𝐍𝐘𝐔𝐌𝐀𝐒, 𝐦𝐞𝐝𝐢𝐚𝐫𝐞𝐚𝐥𝐭𝐚𝐧𝐞𝐰𝐬 𝐜𝐨𝐦 – Kemarahan masyarakat Banyumas sudah di ambang batas. Bertepatan dengan momentum sakral, aliansi rakyat bersama kalangan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Organisasi Masyarakat (Ormas) turun ke jalan dan menggeruduk Pendopo Bupati Banyumas. Aksi besar bertajuk "Sumpah Pemuda & Rakyat Banyumas Menggugat" ini menjadi alarm keras bagi para pejabat daerah dan wakil rakyat yang selama ini dinilai lupa daratan, asyik menikmati kursi kekuasaan, dan mengabaikan penderitaan rakyat kecil.
Berdasarkan pantauan Media Rakyat Banyumas, aksi damai ini murni digerakkan oleh nurani kolektif warga yang muak dengan mentalitas pejabat oportunis. Rakyat lelah dengan perilaku elit politik yang hanya datang mengemis suara saat kampanye, namun tega menginjak-injak janji manisnya begitu menduduki jabatan.
UHC Dihentikan: Bukti Nyata Pejabat Buta Hati dan Gagal Paham Penderitaan Rakyat
Kemarahan massa mencapai puncaknya tatkala program kesehatan gratis bagi rakyat miskin, Universal Health Coverage (UHC), secara sepihak diberhentikan. Kebijakan keji ini membuktikan bahwa para pemangku kebijakan di Banyumas telah kehilangan empati dasar kemanusiaan. Fasilitas kesehatan yang dicabut bukan sekadar urusan administrasi, melainkan telah merenggut nyawa rakyat kecil yang tidak berdaya.
Poster-poster dan spanduk yang dibentangkan massa menyuarakan kemarahan tanpa kompromi: "Bupati Ingkar Janji, Rakyat Jadi Korban!", "Janji Bupati = Omong Kosong! Perda Dikhianati oleh Pembuatnya!", hingga peringatan keras bahwa "Kesehatan Adalah Hak Rakyat, Bukan Komoditas!". Para demonstran menegaskan bahwa penghentian layanan kesehatan ini adalah kejahatan kemanusiaan yang nyata.
Tamparan Keras untuk Wakil Rakyat dan Eksekutif: Jangan Cari Kesempatan di Atas Penderitaan Konstituen!
Massa aksi menegaskan bahwa gerakan ini tidak disetir oleh kepentingan politik manapun. Aksi ini adalah suara murni rakyat yang menolak keras Banyumas dikotori oleh oknum-oknum pejabat dan wakil rakyat yang hanya menggunakan jabatan untuk memperkaya diri, mencari celah keuntungan pribadi, dan melupakan mandat konstituen.
"Janji-janji manis saat kampanye kini tinggal kenangan, aturan dan Perda seolah hanya jadi pajangan di atas kertas! Kami menuntut para pejabat dan wakil rakyat sadar diri. Jangan cuma bisa duduk enak di gedung mewah sementara rakyat tergencet. Kembalikan Banyumas menjadi daerah yang gemah ripah loh jinawi, di mana para elitnya mengabdi untuk rakyat, bukan malah memeras keringat rakyat demi ambisi politik pribadi!" tegas perwakilan warga yang enggan disebutkan namanya.
Melalui gelombang aksi Banyumas Melawan, rakyat mengirimkan ultimatum keras kepada seluruh pejabat pemerintahan dan DPRD Kabupaten Banyumas: segera evaluasi total kebijakan yang menyengsarakan rakyat, pulihkan hak kesehatan masyarakat, dan berhenti menjadikan jabatan sebagai batu loncatan kepentingan pribadi!
(Red/KRT)
