PETARUNG GUNTUR GENI SABET MEDALI EMAS DI KEJUARAAN KICKBOXING CHAMPIONSHIP SLEMAN CITY HALL

Yogyakarta
Sebanyak 13 Atlet Guntur Geni Fighting Club (GGFC) kembali menorehkan prestasi dalam event Kejuaraan Kick Boxing Championship Sleman City Hall di Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu(04/03/2020).






Selain mengikuti kejuaraan kick boxing tersebut, para Atlet juga bertujuan untuk mengasah kemampuan Bela dirinya dan mengasuh Mental untuk jadi sang juara.

Tantangan cukup berat dalam babak final sebanyak 13 Atlet Guntur Geni Yonarmed 11 Kostrad akhirnya berhasil mendapatkan prestasi yang memukau dengan meraih 13 Medali yang terdiri dari 7 Medali Emas dan 6 Medali Perak.

Letkol Arm Asep Ridwan, S.H., M.Han selaku Danyonarmed 11/76/GG/1/2 Kostrad mengatakan "Jika ada kesempatan janganlah ragu untuk mengikuti event perlombaan dimana kalian mempunyai bakat di bidang tersebut, Tim Guntur Geni Fighting Club ini sudah membuat bangga Satuan, semoga yang lain bisa termotivasi untuk bisa membangkitkan Satuan kita ini", tegasnya.

Sementara itu Kolonel Arm Didik Harmono, S.E selaku Danmenarmed 1/PY/2 Kostrad menerima kebijakan dari Panglima Divif 2 Kostrad Mayjen TNI Tri Yuniarto, S.A.P, M.Si, M.Tr (Han) bahwa setiap Satuan harus bisa mengembangkan bakat-bakat yang dimiliki perorangan demi mewujudkan kehormatan seorang Prajurit. Ucapnya.
(Marno )

***

GAMELAN TARBIYAH CINTA MERIAHKAN SUASANA SAMBUNG RASA

PURWOKERTO
TarbiyahCinta adalah kelompok musik yang menggunakan gamelan Jawa untuk diharmonisasikan dengan gitar, drum, dan organ dari instrumen musik Barat lainnya.



Kelompok musik ini didirikan oleh para pemuda Desa Lawen Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, yang berguru kepada kelompok musik serupa yaitu Kiai Kanjeng.

Mereka tampil biasanya membawakan lantunan syair religi Islami dan beberapa lagu Barat yang diadaptasi dengan musik gamelan dan instrumen musik Barat.




Seperti pada pertemuan Sambung Rasa Orang Biasa pada 20 Februari 2020,  sejak pra acara kelompok Gamelan TarbiyahCinta tampil dengan beberapa lantunan syair religi Islami, diiringi lantunan musik gamelan Jawa yang diharmonisasikan dengan gitar, drum, dan organ dari instrumen musik Barat.

Topik pembahasan ketahanan pangan yang sedianya serius mengenai kepemilikan lahan, pupuk impor, kurangnya minat generasi muda untuk bergerak di bidang pertanian, dsb. menjadi cair dan tidak kaku.

Terlebih ketika seniman Banyumas yang juga petani yaitu Titut dari Padepokan Cowongsewu mulai bicara mengungkapkan tentang kehidupannya sehari-hari dengan bahasa Ngapak, kemudian "ngibing" dengan sebuah lagu karangannya yang berjudul "Pacul Gowang", ratusan hadirin yang terdiri dari petani, mahasiswa, perwakilan ormas, dan pemangku kebijakan di Banyumas yang memadati Pendapa Si Panji Purwokerto tampak terhibur dan larut dalam kebersamaan.

Pertemuan bertempat di Pendapa Si Panji Purwokerto ini digelar mulai sekitar pukul 20.00 WIB.

Hadir Bupati dan Wakil Bupati Banyumas, Ketua DPRD Banyumas, Kepala Dinas Pertanian Banyumas, Tito Rahardjo Kiai Kanjeng, Doni Kiai Kanjeng, mahasiswa, dll.

***

Baca Juga:
TARI LENGGER

PURWOKERTO
Tarian rakyat ini telah hidup di Tanah Jawa sejak abad XV sebagai sebuah tarian pergaulan. Sebuah tari sederhana yang tak memakai aturan koreografi seni tradisi. Spontanitas gerak menjadi ciri khas bersama hentakan alunan bunyi instrumen musik pengiringnya. Sejarah tari ini disebut sama tuanya dengan jejak kehidupan masyarakat agraris di tanah Jawa.



Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa era 1811-1816 Sir Thomas Stamford Raffles menulis dalam "The History of Java" bahwa Ronggeng adalah tradisi populer di kalangan petani Jawa saat itu. Kedekatan petani dan ronggeng tak lepas dari keyakinan, tarian itu awalnya adalah ritual pemujaan terhadap Dewi Kesuburan yaitu Dewi Sri. Dalam perkembangannya, begitu banyak catatan mengenai sebutan atas tarian ini. Masyarakat Betawi dan Jawa Barat mengenalnya sebagai ngibing. Masyarakat di Pantai Utara Jawa menyebutnya "dombret" dan sintren. Rakyat di Tanah Parahyangan menamakannya "ronggeng gunung".

Masyarakat di Jawa Tengah dan sekitarnya, dan masyarakat Jawa Timur menyebutnya "tayub", atau "lengger", ada juga yang menyebutnya ledhek gandrung. Jauh sebelum era Raffles, bahkan ronggeng disebut pernah dekat dengan penyebaran agama Islam. Ada sebuah cerita bahwa Sunan Kalijaga sengaja tak memberikan jarak antara agama Islam yang sedang ia sebarkan dan tradisi yang telanjur mengakar. Konon pada sekitar tahun 1450 Sunan Kalijaga bahkan ikut menari "tayub", meskipun harus bersembunyi di balik topeng.

***

Baca Juga:
INDONESIA BAGUS FILE: VIDEO DOKUMENTER SHALAWATAN BARENG CAK NUN



PURWOKERTO
Ini adalah video dokumenter penampilan Emha Ainun Nadjib atau biasa dipanggil Cak Nun ketika digelar event Sinau Bareng Cak Nun di Alun-alun Purwokerto. (*)

***

Baca Juga:
TRADISI BUDAYA : RUWATAN UNTUK ANAK TUNGGAL

BANJARNEGARA
Ini adalah video dokumenter pelaksanaan ruwatan anak tunggal di Banjarnegara.




Baca Juga:
PADUAN SUARA SISWA SMP PANCASILA

PURWOKERTO
Saksikan penampilan siswa SMP Pancasila Jatilawang berikut ini, membawakan lagu-lagu perjuangan.






Lebih baru Lebih lama