​𝐁𝐮𝐤𝐚-𝐁𝐮𝐤𝐚𝐚𝐧 𝐏𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤 𝐏𝐓 𝐑𝐞𝐚𝐥𝐢𝐭𝐚 𝐉𝐚𝐲𝐚 𝐒𝐚𝐤𝐭𝐢: 𝐖𝐚𝐫𝐭𝐚𝐰𝐚𝐧 𝐌𝐚𝐧𝐣𝐚 𝐃𝐢𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐉𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐇𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐧𝐭𝐮𝐭, 𝐈𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐅𝐢𝐥𝐨𝐬𝐨𝐟𝐢 "𝐋𝐞𝐦𝐚𝐡 𝐓𝐞𝐥𝐞𝐬"

𝐉𝐀𝐖𝐀 𝐓𝐄𝐍𝐆𝐀𝐇, mediarealitanews.com – Komitmen dalam mengelola perusahaan pers yang sehat dan berintegritas menuntut profesionalisme tidak hanya dari pihak manajemen, tetapi juga dari jurnalis yang bernaung di dalamnya. Di tengah maraknya industri media yang membebani anggotanya dengan sistem kontribusi atau setoran wajib bulanan ke redaksi, PT. Realita Jaya Sakti justru konsisten mengambil kebijakan mandiri demi menjaga kesejahteraan dan kenyamanan para wartawannya.

Hal tersebut ditegaskan langsung oleh KRT. Ardhi Solehudin, SH., M.Kom., selaku Direktur Utama PT. Realita Jaya Sakti sekaligus Pemimpin Umum dari media siber mediarealitanews.com dan rjsnews.id. Kedua media yang kini tengah berkembang pesat tersebut telah resmi terdaftar di Dewan Pers Indonesia.

𝐒𝐩𝐞𝐬𝐢𝐟𝐢𝐤 𝐓𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐁𝐞𝐛𝐚𝐧 𝐒𝐞𝐭𝐨𝐫𝐚𝐧: 𝐑𝐞𝐝𝐚𝐤𝐬𝐢 𝐏𝐢𝐤𝐮𝐥 𝐎𝐩𝐞𝐫𝐚𝐬𝐢𝐨𝐧𝐚𝐥 𝐌𝐚𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢

Sebagai tokoh pers yang memiliki rekam jejak matang—pernah mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum DPP AWPI dan kini menjabat sebagai Ketua DPD PPWI Provinsi Jawa Tengah—KRT. Ardhi Solehudin memahami betul kerasnya dapur redaksi. Ia mengungkapkan bahwa seluruh modal pendirian badan hukum perusahaan hingga operasional harian kedua media tersebut murni bersumber dari hasil keringat dan jerih payahnya sendiri, tanpa adanya kontribusi atau bantuan finansial dari pihak mana pun.

Kebijakan tanpa setoran bulanan ini sengaja diterapkan agar para wartawan dapat bekerja dengan tenang, fokus di lapangan, dan menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas tanpa dibayangi beban finansial ke redaksi.

𝐒𝐢𝐧𝐝𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐌𝐞𝐧𝐨𝐡𝐨𝐤: 𝐀𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐋𝐚𝐦𝐛𝐚𝐭 𝐔𝐩𝐥𝐨𝐚𝐝 𝐁𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐥𝐮𝐡𝐚𝐧 𝐏𝐫𝐢𝐛𝐚𝐝𝐢

Kendati telah difasilitasi dengan ruang kerja yang sangat nyaman dan bebas dari beban redaksi, KRT. Ardhi Solehudin memberikan sindiran keras namun dikemas dengan nada santai khas seorang senior bagi oknum wartawan yang dinilai kurang bersyukur dan manja.

Ia menyoroti fenomena di mana oknum wartawan kerap 'berteriak' kencang atau mengeluh secara personal ketika menghadapi kendala individu atau urusan pribadinya sendiri. Namun di sisi lain, jika terjadi keterlambatan (delay) dalam proses pengunggahan (upload) berita oleh redaksi, oknum tersebut justru tidak sabar dan ikut mengeluh.

"Seluruh beban administrasi dan operasional redaksi ini saya pikul sendiri sendirian dari hasil keringat saya agar rekan-rekan nyaman. Jadi, kalau sesekali redaksi agak terlambat meng-upload berita karena padatnya antrean, wartawan tidak boleh mengeluh. Harus sama-sama paham, saling mengerti, dan tahu diri bagaimana perjuangan di balik layar," ujar KRT. Ardhi Solehudin sembari terkekeh santai mengingat dinamika para anggotanya.

𝐏𝐫𝐢𝐧𝐬𝐢𝐩 "𝐋𝐞𝐦𝐚𝐡 𝐓𝐞𝐥𝐞𝐬"

Meski harus berjuang mandiri dalam menopang jalannya perusahaan pers dan unit pengawalnya, Press Guard, sosok Pengamat Integritas Publik ini tetap optimis dan menyerahkan segala kebaikan yang ditanamnya kepada Sang Pencipta. Ia memegang teguh keyakinan bahwa ketulusan mempermudah jalan rezeki orang lain tidak akan pernah sia-sia.

"Tuhan tidak akan diam melihat hamba-Nya yang berniat baik. Biarlah orang mau bersikap atau mengeluh seperti apa, saya tetap pegang teguh pepatah Jawa kuno: Lemah Teles (Gusti Allah sing bales). Rezeki tidak akan tertukar, dan apa yang kita tanam dengan ikhlas pasti akan dibalas oleh Yang Maha Kuasa," pungkasnya menutup perbincangan.

Melalui siaran pers profil ini, seluruh jurnalis yang tergabung di dalam Realita Jaya Sakti Group diharapkan dapat lebih dewasa, menghargai ruang kenyamanan yang telah diberikan, serta lebih fokus meningkatkan performa karya jurnalistik mereka di lapangan daripada mengedepankan keluhan pribadi.

(𝐑𝐞𝐝)