Cilacap, mediareslitanews com - Di tengah derasnya tren modern dan budaya serba instan yang terus berseliweran di media sosial, masih ada anak muda yang memilih berjalan sambil membawa warisan budaya di pundaknya. Dialah Nathania Faida Azmi Fatchurohman, Siswi SD Negeri 5 Gandrungmangu Cilacap kelas II (dua) berhasil melangkah menjadi Winne Duta Batik Jawa Tengah 2026.
Bukan sekadar soal tampil rapi di atas panggung atau mengenakan kain batik dengan penuh gaya, bagi Nathania, ajang ini punya makna yang jauh lebih dalam. Ada misi yang ia bawa, membuat generasi muda kembali jatuh cinta pada budaya sendiri.
Ajang grand final Duta Batik Jawa Tengah 2026 sendiri digelar pada 7-8 Juni 2026 di SIM Square Semarang dan menjadi panggung bergengsi bagi para generasi muda yang ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap pelestarian batik sebagai identitas bangsa.
Nathania sadar, di era sekarang mengenalkan budaya ke anak muda bukan perkara mudah. Semua harus dikemas dengan cara yang relate, fresh, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia hadir sebagai representasi anak muda yang tetap bisa modern tanpa melupakan akar budaya.
“Batik itu bukan sesuatu yang kuno. Justru batik punya cerita, filosofi, dan identitas yang keren banget kalau dikenalkan dengan cara yang tepat. Saya ingin generasi muda melihat budaya bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai kebanggaan,” ungkap Nathania dalam rilis yang diterima, Minggu (8/6/26)
Perjalanan menuju grand final tentu tidak instan. Di balik senyum tenang yang ia tampilkan, ada proses panjang yang dijalani. Mulai dari memperdalam wawasan tentang budaya batik, melatih public speaking, membangun kepercayaan diri, hingga mempersiapkan mental untuk tampil di hadapan banyak orang.
Namun bagi Nathania yang biasa akrab dipanggil fafa, proses itulah yang justru paling berharga. Ia merasa ajang ini memberinya ruang untuk tumbuh, mengenal dirinya lebih jauh, sekaligus belajar bagaimana membawa pesan budaya dengan cara yang lebih dekat ke generasi sekarang.
Keikutsertaan fafa pun mendapat dukungan penuh dari orang tuanya serta lingkup sekolahnya dan temen temannya. Kehadirannya di babak grand final menjadi bukti bahwa sekolah Dasar tidak hanya fokus pada pendidikan dasar saja, tetapi juga mampu berkembang di bidang seni, budaya, komunikasi, dan pengembangan diri.
Bagi banyak orang, batik mungkin hanya selembar kain bermotif indah. Tapi di tangan generasi muda seperti Fafa, batik berubah menjadi cerita, identitas, bahkan cara untuk menjaga budaya agar tetap hidup di tengah zaman yang terus bergerak cepat.
“Saya berharap bisa memberikan penampilan terbaik di grand final. Bukan cuma untuk diri sendiri, tapi juga untuk sekolah dan semua anak muda yang percaya kalau budaya itu tetap bisa keren, modern, dan membanggakan, dan terbukti Nathania meraih juara Winner dan berhak maju ketingkat Nasional yang akan di laksanakan pada bulan Oktober 2026 nanti di Yogyakarta,” tutupnya.
Ditempat terpisah ketua penyelenggara Ardan Modeling School (AMS) mengatakan bahwa “berkeingin untuk para juara ini itu benar-benar harus bisa mengetahui tentang batik warisan budaya Indonesia, terutama dari daerahnya masing-masing, Dan dia juga bisa memperkenalkan batik ke internasional nggak cuma di nasional. Ungkap Kak Ardan.
Penulis
Fatur
