Oleh: Mulyadi Tanjung (Buyung)
Langkah kreatif Pemerintah Desa (Pemdes) Bengbulang dalam menggelar Kontes Kambing pada peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 patut diacungi jempol. Di balik kemeriahan acara swadaya tersebut, tersimpan sebuah pesan strategis: peternakan lokal bukan sekadar tradisi, melainkan pilar ekonomi masa depan yang harus digarap serius. Apa yang dipelopori oleh Desa Bengbulang seharusnya tidak berhenti sebagai agenda tunggal, melainkan menjadi pemantik semangat bagi desa-desa lain di wilayah Kecamatan Karangpucung.
Kecamatan Karangpucung membawahi 14 desa yang hampir seluruhnya memiliki bentang alam serta potensi pakan melimpah untuk budidaya peternakan kambing. Lebih dari itu, Karangpucung dianugerahi modal ekonomi yang sangat vital, yakni keberadaan Pasar Desa Karangpucung,salah satu pusat perdagangan hewan khususnya kambing terbesar di Kabupaten Cilacap, bahkan ternama di Jawa Tengah.
Potensi pasar yang raksasa ini adalah peluang emas yang tidak boleh disia-siakan. Sangat ironis apabila pasar hewan terbesar di wilayah kita justru didominasi oleh pasokan kambing dari luar daerah. Jangan sampai masyarakat Karangpucung, yang secara geografis berada di lumbung kesempatan, hanya menjadi penonton di rumah sendiri sementara keuntungan ekonomi mengalir ke luar wilayah.
Oleh karena itu, inisiatif Pemdes Bengbulang harus ditangkap sebagai tantangan terbuka bagi 13 desa lainnya. Diperlukan komitmen bersama, pendampingan mutu bibit secara konsisten, serta sinergi antar-pemerintah desa dan Forkopimcam Karangpucung untuk membangun ekosistem peternakan yang tangguh dari hulu ke hilir.
Jika setiap desa mampu terpacu mencetak peternak unggulan, Karangpucung tidak hanya akan dikenal karena pasarnya, tetapi juga sebagai produsen utama kambing berkualitas yang memperkuat ketahanan pangan daerah.
