BANYUMAS, mediarealitanews.com — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, semangat kebangsaan kembali diuji melalui nilai-nilai dasar kemasyarakatan. Salah satu figur muda asal Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Arif Sutarso, SH, memberikan pandangannya terkait pergeseran tradisi gotong royong di tengah dinamika kehidupan modern saat ini.
Arif Sutarso, yang baru saja menyelesaikan studinya dan meraih gelar Sarjana Hukum (SH) dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto, dikenal luas di lingkungannya sebagai pribadi yang supel, ramah, dan dekat dengan berbagai kalangan masyarakat maupun rekan sejawatnya.
Di sela-sela momentum persiapan menyambut HUT RI ke-81, pria yang berlatar belakang ilmu hukum ini menyoroti bagaimana tradisi gotong royong yang menjadi akar budaya bangsa kini mengalami perubahan wujud dan rasa. Menurutnya, praktik gotong royong di era sekarang sudah tidak lagi sepenuhnya sama dengan apa yang dijalani oleh generasi terdahulu.
"Dahulu, gotong royong hadir secara fisik, spontan, dan berlandaskan rasa kebersamaan yang sangat intim antar tetangga—mulai dari membangun rumah, kerja bakti lingkungan, hingga penanganan hajatan. Namun saat ini, seiring pesatnya modernisasi, urbanisasi, dan teknologi, pola interaksi tersebut bergeser," ujar Arif.
Arif menjelaskan bahwa tantangan gotong royong era modern bukan berarti lunturnya kepedulian sosial secara total, melainkan bentuk partisipasinya yang berubah menjadi lebih individualis atau terformulasikan dalam bentuk dukungan finansial dan kedermawanan digital. Kendati demikian, ia menekankan pentingnya menjaga esensi gotong royong fisik dan kehangatan sosial, terutama dalam kehidupan bermasyarakat di tingkat desa.
"Dalam momentum peringatan kemerdekaan ini, penting bagi kita—khususnya generasi muda—untuk tidak sekadar menjadikan gotong royong sebagai jargon tahunan. Nilai kepedulian dan aksi nyata secara langsung di lingkungan sekitar harus tetap dirawat agar ikatan sosial kita sebagai warga bangsa tidak tergerus oleh sikap apatis," tambahnya.
Harapannya, perayaan HUT RI ke-81 tidak hanya diisi dengan seremonial semata, tetapi juga menjadi momen refleksi bersama untuk merevitalisasi nilai-nilai kebersamaan dan kegotongroyongan dalam menghadapi tantangan sosial masa depan.
(Red/KRT)
