Perjuangan SDN Pojok Kecil Grobogan: Terisolasi di Tengah Hutan, Terhambat Jalan Rusak dan Akses Internet

𝑮𝑹𝑶𝑩𝑶𝑮𝑨𝑵, 𝒎𝒆𝒅𝒊𝒂𝒓𝒆𝒂𝒍𝒊𝒕𝒂𝒏𝒆𝒘𝒔 𝒄𝒐𝒎 — MediaRealitaNews.com, Kondisi memprihatinkan melanda Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pojok Kecil yang terletak di Dusun Wates, Desa Pojok, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan. Berada jauh di tengah kawasan hutan (alas), sekolah dasar ini harus menghadapi berbagai kendala berat, mulai dari akses jalan yang terjal hingga isolasi komunikasi akibat minimnya jaringan internet.


​Akses menuju sekolah menjadi tantangan harian bagi para guru dan murid. Jalanan terjal yang tidak memadai semakin parah dan sulit dilalui ketika musim hujan tiba. Tak hanya soal fisik jalan, keterbatasan infrastruktur teknologi juga melumpuhkan aktivitas belajar mengajar serta urusan administrasi sekolah.

​Kepala Sekolah SDN Pojok Kecil, Suharjito, S.Pd., mengungkapkan bahwa sinyal kartu perdana (paket data seluler) hampir tidak bisa digunakan karena posisi geografis wilayah yang berada di cekungan. 

Selama ini, sekolah hanya mengandalkan jaringan Wi-Fi. Namun, solusi tersebut amat rentan.


​"Kalau mengandalkan Wi-Fi itu sulit sekali. Pertama, kalau kabelnya putus di jalan, otomatis tidak ada akses sama sekali. Kedua, masalah listrik. Di sini sering sekali padam, kadang dari pagi sampai menjelang Magrib baru nyala. Terkena angin sedikit atau hujan, listrik langsung mati. Padahal kami butuh internet untuk absensi dan pekerjaan administratif," ujar Suharjito saat ditemui pada Jumat (9/10/2026).


​Suharjito sangat berharap adanya pembangunan tower telekomunikasi di area tersebut agar sinyal internet seluler dapat dijangkau dengan mudah. Selain itu, dengan jumlah murid yang hanya 36 orang, operasional pembayaran iuran Wi-Fi bulanan terasa amat memberatkan anggaran sekolah.


Pihaknya sangat mendambakan bantuan akses internet gratis, baik dari pemerintah maupun pihak swasta.

​Beban operasional kian bertambah lantaran lokasi sekolah yang terisolasi. 

Untuk membeli Alat Tulis Kantor (ATK) saja, pihak sekolah harus menempuh jarak yang jauh menuju Jambon dengan melintasi medan jalan tengah hutan.

​

​Masalah lain yang tak kalah krusial adalah krisis guru. Saat ini, SDN Pojok Kecil hanya memiliki tiga orang guru formal, yang terdiri dari dua guru kelas dan satu guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Untuk mengajar murid di enam tingkatan kelas, proses pembelajaran dibantu oleh dua warga lokal yang secara sukarela ikut mengajar.


​Sulitnya akses jalan dan tiadanya jaringan komunikasi membuat banyak tenaga pengajar enggan ditugaskan di SDN Pojok Kecil. Suharjito menceritakan, pada kepemimpinan kepala sekolah sebelumnya, terdapat dua guru P3K paruh waktu yang sempat ditempatkan di sekolah ini. Namun, keduanya memilih mengundurkan diri tak lama setelah ditugaskan.


​"Kalau internet putus, seakan-akan semuanya ikut putus. Makanya banyak guru tidak mau ditempatkan di sini. Tahun kemarin ada dua guru P3K paruh waktu yang mundur karena tidak sanggup dengan kondisinya," jelasnya.


​Untuk menarik minat para pengajar, Suharjito berharap selain perbaikan akses jalan dan jaringan internet, pemerintah dapat membangun rumah dinas di area sekolah. Adanya fasilitas tempat tinggal diharapkan dapat menjadi dorongan bagi guru-guru dari luar daerah untuk bertahan dan mengabdi di SDN Pojok Kecil. Wart/Febri